<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <title>Iklan Toko</title>
  <subtitle>Iklan Gratis, Barang pun Laris</subtitle>
  <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com"/>
  <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.iklantoko.com/atom/feed"/>
  <id>http://www.iklantoko.com/atom/feed</id>
  <updated>2009-01-27T03:31:46-08:00</updated>
  <entry>
    <title>KEAJAIBAN SEDEKAH</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/keajaiban-sedekah" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/keajaiban-sedekah</id>
    <published>2009-06-06T01:10:17-07:00</published>
    <updated>2009-06-06T01:10:17-07:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>KEAJAIBAN SEDEKAH<br />
Urusan sedekah adalah urusan hati &amp; keikhlasan setiap umat di dunia ini. Ada yang merasa bahwa setiap harta/uang yang dia terima adalah milik sekaligus hak pribadinya &amp; tidak untuk siapa-siapa apalagi untuk dibagi-bagikan. Audzubillahmindzalik.., namun ada banyak juga berpendapat bahwa setiap harta/uang yang diterimanya adalah titipan Allah semata &amp; wajib disedekahkan kepada yang berhak.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>KEAJAIBAN SEDEKAH</p>
<p>Urusan sedekah adalah urusan hati &amp; keikhlasan setiap umat di dunia ini. Ada yang merasa bahwa setiap harta/uang yang dia terima adalah milik sekaligus hak pribadinya &amp; tidak untuk siapa-siapa apalagi untuk dibagi-bagikan. Audzubillahmindzalik.., namun ada banyak juga berpendapat bahwa setiap harta/uang yang diterimanya adalah titipan Allah semata &amp; wajib disedekahkan kepada yang berhak.</p>
<p>Bagi hamba Allah yang merasa bahwa semua harta serta kedudukan adalah titipan, dengan jiwa yang besar &amp; hati yang tulus ikhlas akan mengeluarkan kewajibannya, walaupun apa yang dia cintai dia korbankan, walaupun dalam keadaan tak punya apapun &amp; terbelit kemiskian, akan tetap rela memberikanya demi mendapat Ridlo Allah SWT.</p>
<p>Aku masih dalam taraf belajar tentang keimanan apalagi soal sedekah, aku hanya ingin berbagi cerita betapa Keajaiban Sedekah itu benar-benar ADA &amp; Allah sungguh Maha Kaya &amp; Pemurah.</p>
<p>Minggu siang, tak seperti biasa aku menyalakan TV, ketemulah salah satu TV Swasta yang menayangkan Acara Keajaiban Sedekah, Tausyiah dibawakan oleh Ust. Yusuf Mansur dengan gaya bahasa sederhana, mudah dipahami, dibumbuhi bahasa gaul ala betawi, mudah dicerna, enak didengar &amp; langsung masuk &amp; mengena direlung hati yang dalam.<br />
Kebetulan ada 2 Nara sumber yang dihadirkan dalam Acara tsb. mengupas betapa Keajaiban Sedekah itu telah merubah hidupnya mengalami kesulitan &amp; dengan bersedekah Allah telah menggangkat semua kesulitan yang dialaminya dalam waktu yang "takjub" bahkan Allah melipat gandakan bakhan berlipat-lipat dari sedekah yang dikeluarkan. Sosok Bapak muda, Bpk. Drs. Mulyadi, MM, secara ikhlas &amp; penuh haru menceritakan bahwa saat itu beliau terlilit hutang bermilyar-milyar, bahkan semua harta &amp; rumah yang beliau miliki serta rumah ibunya akan disita oleh pihak bank, belum lagi hutang-hutang &amp; piutang yang macet.</p>
<p>Jum’at sepulang mendengarkan "vonis eksekusi" penentuan tanggal penyitaan rumah dari bank, beliau begitu kalut, mobil BMW nya tersita, beliau praktis naik bus way yang dalam hidupnya belum pernah merasakan naik bus way. Sehingga kalutnya akhirnya beliau memutuskan turun &amp; mampir ke Masjid Al-Azhar untuk berikhtikaf &amp; secara kebetulan saat itu sedang ada Tausyiah dari Ust. Yusuf Mansur mengulas tentang Keajaiban Sedekah. Beliau masih belum percaya ada keajaiban sedekah, tapi beliau penasaran ingin mengikuti tausyiah tsb. Ketika Ust. Yusuf Mansur menghimbau jamaah untuk mensedekahkan apa yang dimiliki jamaah saat hadir di masjid tsb. (apa saja untuk disumbangkan dengan hati ikhlas, Insya Allah, Allah akan mengangkat segala kesulitan kita).</p>
<p>Satu-satunya harta yang beliau miliki saat hadir, hanya jam tangan kesayangannya, jam tangan yang beliau impikan untuk dimiliki sejak kecil. Jam Bulgary seharga US$ 300.00 dengan ikhlas &amp; maja terpejam beliau letakkan disurban yang telah disedikan oleh Ust. Yusuf Mansur bagi para jamaah yang hadir untuk menyumbangkan apa saja yang dibawa saat itu. "Kriiinggg..", telpon genggam Pak Mulyadi berdering tak berapa lama setelah menyumbangkan jam tangan idamannya. Beliau masih belum percaya adanya keajaiban sedekah walaupun rekanannya yang menelpon mengabarkan bahwa proposal proyeknya telah disetujui. Beliau masih didalam masjid &amp; masih belum yakin akan keajaiban tsb. Sabtu, Minggu dilaluinya &amp; rekanannya telah mengabarkan bahwa nilai proposal proyeknya seharga 3 Milyar telah disetujui tapi tetap belum yakin. "Hari Eksekusi" pun tiba, Senin. Petugas bank yang beliau tunggu-tunggu ternyata belum datang juga. Dengan hati galau beliau menerima telp petugas bank yang mengabarkan bahwa penyitaan dibatalkan karena petugas bank mendengar bahwa proyek beliau disetujui. Subhanallah…</p>
<p>"Betapa hati saya sungguh terharu, ketika saya ke ATM, &amp; terlihat direkening bank saya telah masuk uang sebesar Rp. 3.000.000.000,-," begitu ucapan Pak Mulyadi dengan suara agak parau terharu bahagia agak berkaca-kaca membagikan sharing Keajaiban Sedekah dihadapan Jamaah di salah satu Masjid Tanah Abang Blok A &amp; juga dihadapan para pemirsa televise siang itu. Subhanallah..Allahu Akbar… Sekian persen dari nilai tsb. telah disumbangkan ke Dewan Masjid Al-Azhar. Saya tertegun, terharu, merinding mendengar sharing beliau yang menurut Pak Ust. Yusuf Mansur, bhw. Beliau adalah Ketua Dewan Masjid DKI (cmiiw), jaditinggal menunggu jebolnya pipa pahala tsb. untuk terus mengalir. Ada banyak saksi hidup yang mengalami kejaiban sedekah tsb., salah satunya adalah artis penyanyi Ikang Fauzi yang kebetulan juga menjadi nara sumbernya. Betapa Bung Ikang yang tadinya merasa bahwa buat apa bersedekah sudah capek-capek mencari uang, itukhan hak saya, saya tabung. Namun setelah mendengar salah satu ceramah ttg. Sedekah beliau mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bung Ikang merasa, walaupun tetap menabung dibank tapi hidupnya tetap tidak berubah tanpa bersedekah. Menabunglah untuk akherat &amp; duniamu melalui sedekah.</p>
<p>Aku ada cerita lagi, 2 stories saja ya yang saya dapat dari Ust. Yusuf Mansur yang berbagi cerita siang itu di TV.:</p>
<p>1. Seorang ibu A mengeluhkan anaknya sudah 5 bulan tidak bayar SPP, suatu hari ibu tsb. mempunyai uang senilai lima puluh ribu, disampaikannya kabar gembira tsb. ke anaknya bahwa besok kita akan melunasi uang SPP yang tertunggal sebanyak 5 bulan.<br />
Suatu pagi, rumahnya didatangi oleh seorang ibu B (tetangganya) yang menangis tersedu-sedu &amp; mengeluh bahwa anaknya belum bayar SPP selama 7 bulan, &amp; bermaksud untuk pinjam. Dengan hati ikhlas ibu A memberikannya uang lima puluh ribu tsb. ke Ibu B. Betapa tulus hati Ibu A tsb., tak berselang lama Ibu A mendapat kabar bahwa anaknya mendapat bea siswa &amp; dibebaskan dari uang SPP…</p>
<p>2. Seorang Pemuda yang sudah sekian tahun belum juga mendapatkan pekerjaan, kemudian dia nadzar "Bila suatu saat nanti mendapat pekerjaan, saya tidak membutuhkan uangnya yang penting saya bekerja",begitu nadzarnya. Singkat cerita, akhirnya mendapat panggilan kerja. "Tanpa CV &amp; cukup KTP saja, anda bisa langsung kerja, &amp; tempat kerja anda bisa dilantai 1, 10, 8 diruang mana saja, anda kami terima sebagai office boy," begitu penjelasan sang pewawancara. Satu bulan kemudian, pemuda tsb. gajian, dia ingat akan janjinya bahwa dia tidak membutuhkan uang hanya pekerjaan saja. Dengan jiwa besar, uang hasil keringatnya selama sebulan disumbangkan kepada kaum dhuafa. Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih. Pemuda yang bekerja sbg. Office boy tsb. telah bergaji hampir 8juta-10juta perbulan, darimana? Ternyata Allah memberikan pahala itu datangnya dari segala arah, salah satu contohnya, saat pemuda tsb. disuruh beli mie ayam sipenyuruh memberikan uang 200rb, &amp; kembaliannya diberikan ke pemuda office boy tsb., &amp; ada saja rejeki itu datang tak disangka-sangka. Oppss…, time is up, waktuku habis nih, semoga sharingku bisa menggugah untuk rajin bersedekah, aku pernah mendengar salah satu Tausyiah dari Mbak Sasha (DT Jkt. Saat Tour DT ke Bandung) bahwa 3 permohonan doa dari orang-orang yang meninggal dunia (dikutip dari La Tansa Book, buku terlaris di Timor Tengah, cmiiw).<br />
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan melaksanakan Sholat Sunnah.<br />
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan terus mengucapkan Shalawat.<br />
Ya Allah, seandainya aku diberi kesempatan satu kali saja, aku akan terus melaksanakan SEDEKAH.<br />
Betapa pentingnya sedekah, Hari ini Bulan ini Bulan Suci Ramadhan, bulan penuh rahman, saat yang terbaikuntuk berlomba-lomba memperbanyak sodaqah.., Insya Allah, Keajaiban Sedekah merubah hidup kita..Amiin. Segala kesalahan &amp; kekurangan datangnya dari saya yang jauh dari kesempurnaan, &amp; segala kebenaran hanyalah datangnya dari Allah..<br />
Yusuf Mansur</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Jangan Tertipu Penampilan</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/jangan-tertipu-penampilan" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/jangan-tertipu-penampilan</id>
    <published>2009-06-06T00:56:26-07:00</published>
    <updated>2009-06-06T00:56:26-07:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Jangan Tertipu Penampilan<br />
Diremehkan karena penampilan pernah dirasakan teman saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu dia akan mencari keramik untuk rumah yang baru dia bangun. Kebetulan para tukang akan mengerjakan pemasangan keramik maka dia mengunjungi toko keramik terbesar di kotanya untuk mencari model yang disuka oleh sang istri.<br />
Kebetulan waktu itu hari minggu, jadi dia bersama mertuanya menunggui seharian para tukang yang mengerjakan rumahnya. Pakaian yang dipakai mereka pun adalah pakaian seadanya dan sandal mereka agak kotor oleh tanah.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Jangan Tertipu Penampilan</p>
<p>Diremehkan karena penampilan pernah dirasakan teman saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu dia akan mencari keramik untuk rumah yang baru dia bangun. Kebetulan para tukang akan mengerjakan pemasangan keramik maka dia mengunjungi toko keramik terbesar di kotanya untuk mencari model yang disuka oleh sang istri.</p>
<p>Kebetulan waktu itu hari minggu, jadi dia bersama mertuanya menunggui seharian para tukang yang mengerjakan rumahnya. Pakaian yang dipakai mereka pun adalah pakaian seadanya dan sandal mereka agak kotor oleh tanah.</p>
<p>Saat mereka masuk di toko keramik, mereka disambut oleh para pelayan toko. Yang agak menjengkelkan para pelayan toko lebih memperhatikan pelanggan yang berpenampilan rapi dan bermobil, tidak seperti mereka yang berpakaian kumal dan hanya mengendarai sepeda motor. Merasa tidak diperhatikan akhirnya teman saya tidak jadi membeli keramik di tempat itu.</p>
<p>Para pelayan toko tidak menyadari bahwa orang yang berpakaian kumal tersebut sebenarnya sudah membawa uang yang cukup untuk membeli ratusan meter keramik saat itu juga. Dan mereka juga tidak tahu bahwa 2 orang yang telah mereka remehkan tersebut sebenarnya adalah seorang pengusaha muda bersama dengan seorang dokter senior (mertuanya).</p>
<p>Semoga kisah teman saya di atas bisa bermanfaat bagi kita semua. Penampilan memang terkadang bisa menipu. Pesan saya, janganlah terlena pada penampilan yang glamor dan meremehkan penampilan yang sederhana atau bahkan kumal seperti teman saya di atas. Para penipu ulung biasanya berpenampilan sangat meyakinkan, sebaliknya ada juga orang sukses yang berpenampilan biasa-biasa saja. Penampilan teman saya sebagai salah satu contohnya. Mungkin sambutan pelayan toko akan lain seandainya teman saya datang mengendarai mobilnya dan mengenakan pakaian rapi. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Sukses untuk anda…..</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>KEAJAIBAN BERPIKIR POSITIF </title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/keajaiban-berpikir-positif" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/keajaiban-berpikir-positif</id>
    <published>2009-06-06T00:52:20-07:00</published>
    <updated>2009-06-06T00:52:20-07:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!”<br />
Mungkin Anda sudah mengenal kalimat yang terkenal ini, sebuah kalimat yang di ucapkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk syurga. Beliau adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Dalam kalimat ini terkandung sebuah makna dari apa yang disebut dengan berpikir positif.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!”</p>
<p>Mungkin Anda sudah mengenal kalimat yang terkenal ini, sebuah kalimat yang di ucapkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk syurga. Beliau adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Dalam kalimat ini terkandung sebuah makna dari apa yang disebut dengan berpikir positif.</p>
<p>Para ahli saat ini mengatakan bahwa keajaiban berpikir positif ialah saat Anda mengatakan bisa, maka Anda akan bisa. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa beliau mampu untuk selalu menghasilkan uang, bahkan dengan peribahasanya: mengangkat batu pun bisa menghasilan emas dan perak. Secara tidak langsung, Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa beliau bisa mendapatkan uang dari setiap perniagaanya.</p>
<p>Berpikir Positif diawali dengan sebuah keyakinan pada diri sendiri. Keyakinan bahwa dirinya mampu. Keyakinan yang mengatakan bahwa diri beliau “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda “bisa”, maka Anda akan “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda akan menghasilkan, maka Anda akan menghasilkan. Jika Anda tidak bisa melakukan hal seperti ini, maka Anda masih dikuasai oleh pikiran negatif.</p>
<p>Tidak ada orang yang memiliki pikiran positif 100% kecuali para nabi Allah. Sejauh mana diri Anda berpikir positif bisa dilihat pada diri Anda saat ini. Bagaimana dengan keuangan Anda? Itulah tingkat pikiran Anda tentang uang. Bagaimana kesehatan Anda? Itulah level pikiran Anda tentang kesehatan Anda. Bagaimana dengan hubungan Anda? Itulah kualitas pikiran Anda tentang hubungan.</p>
<p>Bagaimana dengan orang kaya yang jahat? Dia memiliki pikiran positif terhadap uang. Betul, tetapi hanya kepada uang, tetapi dia memiliki pikiran negatif terhadap hal lain sehingga membuat dia jahat. Begitu juga, adalah sangat mungkin orang yang berpikir positif tidak kaya, bukan berarti tidak bisa, tetapi itu adalah pilihan hidup. Hal yang ideal ialah bagaimana kita memiliki pikiran positif untuk semua hal dalam hidup kita, sehingga kita hidup dalam sebuah keseimbangan. Saya menawarkan sebuah konsep berpikir yang lebih tinggi dibanding dengan berpikir positif, yaitu berpikir indah atau apa yang saya sebut dengan Beautiful Mind.</p>
<p>Sebagai lawan dari pikiran positif tentu saja apa yang disebut pikiran negatif. Kehadiran pikiran negatif bisa mentralisir pikiran positif Anda. Pikiran positif akan memancarkan energi positif, sementara pikiran negatif akan memancarkan energi negatif. Tergantung energi mana yang lebih besar. Jika energi positif lebih besar, maka hidup Anda akan lebih positif. Tugas Anda ada dua, yang pertama memperbesar energi positif dan yang kedua memperkecil energi negatif. Setelah itu, rasakanlah indahnya hidup jika kita memiliki pikiran indah.</p>
<p>Syaiful M. Maghsri</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya (Kisah Nyata)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/menjual-semua-hartanya-untuk-sedekah-malah-kaya-raya-kisah-nyata" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/menjual-semua-hartanya-untuk-sedekah-malah-kaya-raya-kisah-nyata</id>
    <published>2009-06-06T00:50:22-07:00</published>
    <updated>2009-06-06T00:50:22-07:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Ini kisah nyata yang dialami teman bekas guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Ini kisah nyata yang dialami teman bekas guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.</p>
<p>Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan bekas guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.</p>
<p>Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.</p>
<p>Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.</p>
<p>Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.</p>
<p>Sukses untuk anda…..</p>
<p>Syaiful M. Maghsri</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Martha Tilaar: Membangun Istana Kecantikan Dari Garasi</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/martha-tilaar-membangun-istana-kecantikan-dari-garasi" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/martha-tilaar-membangun-istana-kecantikan-dari-garasi</id>
    <published>2009-03-07T17:40:28-08:00</published>
    <updated>2009-03-07T17:40:28-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Martha Tilaar: Membangun Istana Kecantikan Dari Garasi<br />
Jangan pernah meremehkan sebuah panggilan hati, meski itu bertentangan dengan apa yang menjadi sikap keseharian kita! Itulah yang terjadi pada sosok Martha Tilaar. Barangkali, melihat kiprah perempuan yang masih terlihat segar di usia yang tak lagi muda ini pasti kita membayangkan masa mudanya tak bakal jauh dari urusan seputar kecantikan? Pastilah ia berhubungan erat dengan keelokan, keanggunan, dan kemolekan ala kraton Jawa yang terbentuk baik dari sikap maupun penampilan.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Martha Tilaar: Membangun Istana Kecantikan Dari Garasi</p>
<p>Jangan pernah meremehkan sebuah panggilan hati, meski itu bertentangan dengan apa yang menjadi sikap keseharian kita! Itulah yang terjadi pada sosok Martha Tilaar. Barangkali, melihat kiprah perempuan yang masih terlihat segar di usia yang tak lagi muda ini pasti kita membayangkan masa mudanya tak bakal jauh dari urusan seputar kecantikan? Pastilah ia berhubungan erat dengan keelokan, keanggunan, dan kemolekan ala kraton Jawa yang terbentuk baik dari sikap maupun penampilan. </p>
<p>Ternyata, masa muda perempuan kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937 ini jauh dari kesan cantik dan anggun. Malah, ia tumbuh jadi gadis tomboy, lincah, bahkan bandel. Ia sangat tidak suka merawat diri jika dibandingan dengan saudara-saudaranya. Bayangkan, hobinya main layang-layang dan berenang di sungai! Karena itu, kulitnya jauh dari kesan mulus dan bahkan rambutnya pun memerah. Ibunda Martha muda sering menegur dirinya agar berpenampilan layaknya seorang perempuan. </p>
<p>Masa remajanya, Martha mengambil kuliah jurusan sejarah di IKIP Negeri Jakarta. Sejak lulus tahun 1962, ia kemudian mengajar sejarah. Profesinya sebagai guru membuat dirinya makin sering diperingatkan sang bunda untuk berpenampilan lebih layak di depan murid-murid. Akhirnya, ia lantas dipaksa untuk ikut les kecantikan. Konon, diantar sang ibu ia belajar tata kecantikan ke Titi Purwosoenoe. Rupanya, di sinilah jiwa perempuan Martha terpanggil. Entah siapa yang memengaruhi, atau entah itu merupakan panggilan hati, Martha mulai jatuh cinta dengan dunia kecantikan. </p>
<p>Maka, saat sebuah kesempatan menghampirinya, Martha pun menyempatkan diri belajar kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. Saat itu, ia mengikuti tugas belajar suaminya ke Amerika. Dari hasil pendidikannya, ia kemudian membuka praktik salon. Ia terjun ke lapangan sendirian untuk mempromosikan usahanya. Mulai dari masuk kampus-kampus, hingga mendatangi ibu-ibu yang ikut suami tugas di sana. Martha juga menyempatkan diri melamar bekerja sebagai salesgirl produk kosmetika Avon. Setiap sore ia keluar masuk asrama mahasiswa dan mengetuk pintu untuk lalu berteriak lantang, "Avon Calling!"</p>
<p>Dari sini, jiwa wirausahanya terus bergolak. Maka, sekembalinya ke Indonesia, ia pun memutuskan membuka salon. Karena belum mempunyai rumah sendiri, garasi rumah orangtuanya jadi laboratorium usaha yang ia beri nama "Martha Salon". Di sebuah ruangan berukuran 6x4 meter daerah Menteng Jakarta itu, tepat pada tanggal 3 Januari 1970, menjadi hari bersejarah penentu arah hidup Martha Tilaar. Di sana, ia mulai membuat produk-produk kecantikan dari bahan alam dengan nama Sariayu Martha Tilaar, merek yang jika diartikan "Sarinya Wong Ayu". </p>
<p>Dari garasi itulah, perjalanan bisnis Martha Tilaar teruji dengan berbagai hal. Meski produknya mulai diterima oleh banyak orang, ia sempat ditolak saat hendak menyewa beberapa mal dan plaza terkemuka di Jakarta. Produknya dianggap tidak memiliki image berkelas.</p>
<p>Martha Tilaar lantas menjawab tantangan tersebut dengan mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar pada kisaran Mei 1995. Tepatnya di daerah Kuningan Jakarta Selatan, ia membuat gerai jamu dan kosmetika Sariayu. Berkat perjuangannya, gerai tersebut mampu berkembang dan bahkan punya cabang di kota-kota besar lain di Indonesia. Usaha yang kini dinamai Martha Tilaar Group berkembang dengan sekitar 11 anak perusahaan dan mampu mempekerjakan setidaknya 6000-an orang.</p>
<p>Kini, dengan kesuksesannya, ia mendirikan Yayasan Martha Tilaar untuk mendidik kaum  perempuan tentang kecantikan. Yayasan ini bertujuan mendidik kaum perempuan agar mempunyai keterampilan tentang kecantikan hingga bisa jadi modal saat terjadi krisis seperti pemutusan hubungan kerja (PHK).</p>
<p>Kisah perjuangan Martha Tilaar dari nol hingga menjadi sukses luar biasa patut diteladani oleh siapa saja. Kekuatan tekad untuk mendobrak tantangan yang ada adalah inspirasi bahwa siapapun yang mau berusaha dan berjuang, pasti akan menemukan jalan keberhasilan</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Eddy Hartono - Berbisnis Dengan Hati</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/eddy-hartono-berbisnis-dengan-hati" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/eddy-hartono-berbisnis-dengan-hati</id>
    <published>2009-03-07T14:32:09-08:00</published>
    <updated>2009-03-07T14:32:09-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Eddy Hartono - Berbisnis Dengan Hati<br />
Oleh : Team Andriewongso.com<br />
Menjelang akhir tahun 1980-an, produksi kaos-kaos berkerah mulai gencar di pasaran. Berbagai merek dengan kualitas dan harga yang berbeda-beda muncul. Beberapa nama menjulang karena dianggap sebagai merek dagang impor. Karena laris, kaos berkerah itu sering kali jadi bahan pembajakan merek. Salah satu yang mengalami kejadian itu adalah baju bermerek Hammer.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Eddy Hartono - Berbisnis Dengan Hati</p>
<p>Oleh : Team Andriewongso.com</p>
<p>Menjelang akhir tahun 1980-an, produksi kaos-kaos berkerah mulai gencar di pasaran. Berbagai merek dengan kualitas dan harga yang berbeda-beda muncul. Beberapa nama menjulang karena dianggap sebagai merek dagang impor. Karena laris, kaos berkerah itu sering kali jadi bahan pembajakan merek. Salah satu yang mengalami kejadian itu adalah baju bermerek Hammer.<br />
Merek yang ternyata asli Indonesia itu adalah hasil kreasi pria kalem bernama Eddy Hartono. Di tangannya, saat merek yang lain mulai tenggelam, Hammer justru terus berkibar dan bahkan melakukan diversifikasi merek dengan memunculkan Nail. Bagaimana resep sukses pria yang juga menjadi Ketua Asosiasi Supplier Matahari Department Store itu? </p>
<p>"Saya senang membantu, siapapun saya bantu. Kompetitor juga saya bantu," sebutnya lugas, tanpa kesan dibuat-buat. Barangkali, pola pikir yang memandang pesaing justru sebagai kawan itulah yang meraih sukses sejati. Dan memang, dalam kesehariannya, tampak jika Eddy sangat memperhatikan semua orang, termasuk hal sepele seperti jatah pembalut bagi karyawatinya. </p>
<p>Tak heran, jika sebagian besar karyawannya selalu loyal pada Eddy. Maka, di tengah gempuran merek-merek asing yang terus bermunculan, Hammer mampu tetap eksis. Bahkan, karena prestasinya membesarkan Hammer, Presiden Direktur PT Warna<br />
Mardika ini sempat menerima "Anugerah Produk Asli Indonesia - kategori Sandang" pada tahun 2008. </p>
<p>Menurut putera kedua dari 6 bersaudara ini, sukses yang diperolehnya kini banyak dipengaruhi oleh mamanya. "Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, mama ikut mencari nafkah dengan berjualan di warung-warung desa, dengan menggunakan perahu." kisahnya menuturkan semangat sang mama yang jadi inspirasi hidup. "Mama saya sungguh luar biasa, ia bisa bikin macam-macam kue, dan berjualan sepanjang hari selama 20 jam lebih." </p>
<p>Eddy kecil memang terlahir dari keluarga sangat sederhana. Ia lahir dan dibesarkan di sebuah daerah terpencil di Kalimantan Barat. Masa kecil dilaluinya dengan penuh perjuangan. Untuk pergi ke sekolah saja, Eddy kecil mesti menempuh jarak yang cukup jauh. "Di daerah saya waktu itu belum ada sekolahan, makanya saya mesti sekolah di satu kabupaten yang harus melewati laut...." kenangnya. </p>
<p>Masa perjuangan itu rupanya mengkristal dalam prinsip hidup yang kini telah mengantarnya menggapai impian. Buah perjuangan masa kecil itu kemudian terpatri dalam semangat untuk mau bekerja keras dan bertekad kuat untuk sukses. </p>
<p>Selain itu, nilai wisdom sepertinya juga telah mendarah daging dalam sikap yang mengantarnya pada kesuksesan. Ia menuturkan, suatu ketika pabriknya yang dibangun di tahun 1987 dengan karyawan hingga 2000 orang, dua hari menjelang Natal tahun 1995 ludes terbakar! "Sebelum kebakaran itu, setiap kali melihat karyawan bubar dari pabrik, saya merasa sangat bahagia sekali, karena telah menghidupi begitu banyak orang. Pemikiran itulah yang membuat saya jadi semangat; saya harus sukses! Karena kalau tidak, kasihan semua karyawan. Prinsip saya kalau kita mikir orang (lain), pasti Tuhan akan mikir kita!" </p>
<p>Begitulah sosok Eddy yang berbisnis dengan hati. Selain itu, ada pula beberapa resep sukses yang menjadi landasan hidupnya. Landasan itu disebutnya sebagai: Eddy Hammer's Way. Apa saja itu? Simak kisah selengkapnya di majalah LuarBiasa edisi kedua Februari 2009.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Jeff Bezos, Sang Raja Bisnis Online</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/jeff-bezos-sang-raja-bisnis-online" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/jeff-bezos-sang-raja-bisnis-online</id>
    <published>2009-03-07T14:22:11-08:00</published>
    <updated>2009-03-07T14:22:11-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Jeff Bezos, Sang Raja Bisnis Online<br />
Siapa yang tidak kenal dengan Jeffry Preston Bezos atau yang lebih dikenal sebagai Jeff Bezos saat ini? Seorang pengusaha kaya raya yang terkenal berkat usaha Amazon.com yang dirintisnya. Toko online yang dibuatnya membuat dirinya bertengger di deretan pengusaha terkaya di dunia. Berkat kerja keras, semangat, kecerdasan, dan ketekunannya membangun usaha, kini Amazon.com menjadi toko online—yang konon terlengkap—yang mendunia.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Jeff Bezos, Sang Raja Bisnis Online</p>
<p>Siapa yang tidak kenal dengan Jeffry Preston Bezos atau yang lebih dikenal sebagai Jeff Bezos saat ini? Seorang pengusaha kaya raya yang terkenal berkat usaha Amazon.com yang dirintisnya. Toko online yang dibuatnya membuat dirinya bertengger di deretan pengusaha terkaya di dunia. Berkat kerja keras, semangat, kecerdasan, dan ketekunannya membangun usaha, kini Amazon.com menjadi toko online—yang konon terlengkap—yang mendunia. </p>
<p>Kecerdasan dan ketekunan pria kelahiran Albuquerque, New Mexico, 12 Januari 1964 ini sudah terlihat sejak ia  berusia tiga tahun. Pada usia itu, Jeff meminta tempat tidur biasa, bukan tempat tidur dalam bentuk boks. Namun karena tidak diberikan tempat tidur biasa maka Jeff membongkar boksnya dengan obeng. Di sekolah pun, para guru Jeff mengalami kesulitan untuk menghentikan dari tugas yang dilakukannya. Untuk memindahkan ke tugas berikutnya, mereka harus memindahkan Jeff dengan mengangkat bangku yang sedang didudukinya. </p>
<p>Kakek Jeff, Preston Gise merupakan pengelola wilayah barat dari Komisi Energi Atom dimana ia bertanggung jawab untuk laboratorium di Sandia, Lawrence Livermore, dan Los Almos. Pada saat Jeff berusia sepuluh tahun, Jeff bersama kakeknya menghabiskan musim panas di barat daya Texas. Preston melihat cucunya merupakan seorang ilmuwan muda seperti dirinya dulu. Lantas, dia membantu cucunya membuat radio amatir Heatkit dan membantu Jeff dalam mengoleksi berbagai macam benda yang—kadang—sering merusak garasi rumah orangtua Bezos. Sebab, di garasi itulah, Jeff mempunyai laboratoriumnya sendiri untuk berbagai eksperimen ilmiah.<br />
Pada saat SMU, Jeff memenangkan suatu perlombaan yang disponsori oleh NASA dengan menulis makalah mengenai dampak ketiadaan gravitasi pada usia rata-rata lalat. Kemudian pada musim panas tahun 1981, Jeff bekerja sebagai juru masak McDonald’s di Miami. Di sinilah dia mulai mengenal pentingnya melayani pelanggan. </p>
<p>Setelah lulus SMU, Jeff kuliah di Universitas Princeton. Ia mengambil jurusan fisika namun kemudian ia pindah fakultas untuk mendalami komputer sehingga ia lulus dengan gelar di bidang ilmu komputer dan teknik listrik. Setelah lulus kuliah, Jeff bekerja di Wall Street. Ia membangun sebuah jaringan komputer di sebuah gedung perusahaan Fitel. Kemudian Jeff pun bekerja sebagai di D.E. Shaw &amp; Co sebagai wakil presiden direktur, padahal kala itu usianya baru menginjak 28 tahun. Bosnya kala itu, David Shaw, meminta Jeff untuk meneliti tidak hanya bisnis baru, tetapi juga peluang bisnis internet baru. </p>
<p>Jeff pun memikirkan hal yang dapat dijual di internet. Dia membuat daftar 20 barang terlaris yang dijual lewat surat. Ia pun mempelajari daftar tersebut dan ternyata buku berada di peringkat teratas. Menurutnya bisnis buku adalah bisnis raksasa, namun tidak ada yang mendominasinya. Ia menyadari tidak ada bank data pesanan melalui surat yang dapat memuat semua judul buku yang tersedia dalam satu tahun. Menurutnya, bank data yang terkomputerisasi dapat mengorganisasikannya dan dapat menjadi toko buku online yang bisa diakses melalui internet. Namun saat Jeff memberitahukan, bosnya Shaw tidak tertarik. </p>
<p>Jeff pun mendiskusikan hal ini dengan rekannya, MacKenzie. Mereka pun lantas ingin mencobanya sendiri. Jeff pun memikirkan nama yang cocok untuk usahanya. Ia mulai mencari dengan nama depan “A”. Akhirnya dia menemukan nama yang cocok yaitu Amazon.com. Menurutnya Amazon adalah sungai terbesar, yang melambangkan koleksi terbesar di dunia. Pada bulan November 1994, Jeff dan beberapa rekannya, MacKenzie, Shel, dan Paul mulai bekerja di garasi sempit yang digunakannya sebagai kantor. </p>
<p>Pada saat itu ia mengalami dua masalah. Masalah yang pertama adalah uang. Amazon.com harus mampu membayar orang-orang yang membuat usahanya berjalan. Maka, Jeff membentuk perusahaan dan ia menyandang jabatan sebagai pendiri, CEO, dewan direksi, dan presiden direktur. Yang kedua adalah perangkat lunak. Satu-satunya perangkat lunak yang tersedia adalah untuk mengelola inventaris dan memproses untuk pesanan disain untuk bisnis pesanan via surat biasa. Namun berkat kegigihan mereka, semua itu bisa diatasi. </p>
<p>Amazon.com mengalami sukses yang sangat cepat karena usaha mereka sangat memudahkan bagi pengguna untuk mencari buku yang diinginkan. Selain itu, Amazon.com menjual produk mereka dengan harga yang lebih murah daripada toko. Kesuksesan mereka berlanjut hingga kini, dimana mereka kini juga menjual aneka barang selain buku.</p>
<p> Jeff Bezos berhasil membangun toko online Amazon.com menjadi mendunia. Tentu saja hasil yang dipetiknya sekarang bukanlah hal yang mudah. Jeff dapat melihat peluang untuk membuka bisnis baru. Kepiawaiannya tersebut membawanya menjadi pengusaha sukses. Sebuah pengalaman hidup yang dapat diteladani dari seorang Jeff Bezos.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Howard Schultz, Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/howard-schultz-kisah-secangkir-kopi-yang-mendunia" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/howard-schultz-kisah-secangkir-kopi-yang-mendunia</id>
    <published>2009-03-07T14:13:55-08:00</published>
    <updated>2009-03-07T14:13:55-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Howard Schultz, Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia<br />
Oleh : Team Andriewongso.com<br />
Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan-bahkan dianggap gila-oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara? Menyerah? Atau malah makin bergairah? Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Howard Schultz, Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia</p>
<p>Oleh : Team Andriewongso.com</p>
<p>Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan-bahkan dianggap gila-oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara? Menyerah? Atau malah makin bergairah? Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda. </p>
<p>Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. "Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila! Siapa yang mau? Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi," itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks. </p>
<p>Dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama dengan Dori Jones Yang- Pour Your Heart Into It; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir Demi Secangkir-Howard menceritakan bagaimana ia merintis "cangkir demi cangkir" dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia. </p>
<p>Awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang sudah disangrai. Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru.  Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks. </p>
<p>Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan. </p>
<p>Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya. </p>
<p>Tekad itu terwujud--dan bahkan--dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi. </p>
<p>Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.</p>
<p>Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata. Kepedulian yang ditunjukkan dengan "memanusiakan" semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kekuatan Determinasi</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/kekuatan-determinasi" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/kekuatan-determinasi</id>
    <published>2009-03-07T12:17:02-08:00</published>
    <updated>2009-03-07T12:59:38-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Kekuatan Determinasi<br />
Di suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan dan frustasi yang menggantung disana. Dia sebentar berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu, sebentar terduduk dan menghela napas panjang, kegiatan itu diulang berkali-kali seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Kekuatan Determinasi</p>
<p>Di suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan dan frustasi yang menggantung disana. Dia sebentar berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu, sebentar terduduk dan menghela napas panjang, kegiatan itu diulang berkali-kali seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.</p>
<p>Saat itu, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya diantara ranting sebatang pohon tempat dia duduk sambil melamun. Dengan perasaan iseng dan kesal diambilnya sebatang ranting dan segera sarang laba-laba itupun menjadi korban kejengkelan dan keisengannya, dirusak tanpa ampun. Perhatiannya teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira Apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain?</p>
<p>Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban untuk waktu yang lama. Karena si laba-laba kembali ke tempatnya semula, mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat, setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan hampir menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh memperbaiki dan membuat sarang baru,<br />
kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan perasaan puas dan ingin tahu, diamati ulah si laba-laba, apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah pengrusakan sarang kedua kalinya? Ternyata untuk ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya, kembali memulai dari awal dengan bersemangat merayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.</p>
<p>Melihat dan mengamati ulah laba-laba, membangun sarang yang telah hancur untuk ke tigakalinya,<br />
saat itulah si pemuda mendadak sontak tersadarkan. Tidak peduli berapa kali sarang laba-laba dirusak dan dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, Semangat binatang kecil sungguh luar biasa!!</p>
<p>Hal itu menimbulkan perasaan malu Si pemuda. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu, dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan! Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati : Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi ! berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari setiap kehancuran! </p>
<p>kegagalan adalah bagian kecil dari proses kesuksesan.</p>
<p>Kegagalan bukan berarti kita harus menyerah apalagi putus asa, kegagalan itu berarti kita harus introspeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin, selama kita masih memiliki tujuan yang menggairahkan untuk di capai, tidak pantas kita patah semangat ditengah jalan, karena dalam kenyataannya , tidak ada sukses sejati yang tercipta tanpa melewati kegagalan. Jangan takut gagal!<br />
Kegagalan adalah bagian kecil dari proses kesuksesan.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (2)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/mitos-seputar-bisnis-waralaba-2" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/mitos-seputar-bisnis-waralaba-2</id>
    <published>2009-01-27T05:01:55-08:00</published>
    <updated>2009-01-27T05:01:55-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (2)<br />
Mitos 5 : Franchise jalan bebas stres untuk memulai bisnis<br />
Realitas : Membangun bisnis apa pun bisa menimbulkan stres dalam masa tertentu. Sekalipun franchise menawarkan banyak manfaat seperti nama yang sudah dikenal, infrastruktur kerja dan kampanye lewat iklan, namun franchise tak kebal (immune) dari naik-turun nya kepemilikan bisnis.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (2)</p>
<p>Mitos 5 : Franchise jalan bebas stres untuk memulai bisnis<br />
Realitas : Membangun bisnis apa pun bisa menimbulkan stres dalam masa tertentu. Sekalipun franchise menawarkan banyak manfaat seperti nama yang sudah dikenal, infrastruktur kerja dan kampanye lewat iklan, namun franchise tak kebal (immune) dari naik-turun nya kepemilikan bisnis.</p>
<p>Faktanya, segala manfaat itu datang bersama sejumlah persyaratan. Tak hanya mengharuskan franchisee beroperasi dengan berbagai ketentuan (guidelines) seperti dijelaskan sebelumnya, namun mereka juga bertanggung jawab sepenuhnya atas sukses keuangan dari bisnis yang dijalankan.</p>
<p>Contohnya, jika franchise mengalami penurunan penjualan lebih dari satu bulan. Tak hanya kehilangan pendapatan, franchisee juga harus memberikan penjelasan kepada franchisor kenapa itu terjadi.</p>
<p>Mitos 6 : Memiliki franchise berarti anda tak perlu berurusan dengan karyawan<br />
Fakta : membangun bisnis apa pun tak hanya memerlukan investasi keuangan, tetapi juga waktu dan tenaga. Anda akan tetap menghabiskan waktu, sesedikit apa pun, untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Dan hal ini memerlukan komunikasi dan konsekuensinya memerlukan waktu untuk terus berhubungan dengan karyawan.</p>
<p>Mitos 7: Anda selalu diproteksi dari kompetisi yang berasal dari franchise lain yang satu area<br />
Fakta : Hal ini bergantung pada kontrak yang dibuat. Jika kesepakatannya kuat, anda akan terlindung dari kompetisi tak diinginkan. Selain itu, anda juga harus memperhatikan baik-baik klausul jangka waktu kapan wilayah anda terbuka untuk negosiasi.</p>
<p>Jalan untuk mencapai kesepakatan terbaik dengan franchisor, gunakanlah jasa konsultan hukum untuk menelaah dokumen-dokumen penting sebelum menyepakati semu ketentuan yang ada di dalamnya.</p>
<p>Mitos 8: Jaringan bisnis paling populer (dan menguntungkan) adalah franchise</p>
<p>Fakta: Meski banyak studi menunjukkan franchise memberikan pengembalian investasi lebih besar ketimbang yang lain, namun tak semua jaringan bisnis menguntungkan adalah franchise.</p>
<p>Kasus seperti Starbucks, dijalankan dengan model perusahaan pribadi. Hal ini berarti, perusahaan memiliki tiap outlet, akan tetapi diperlukan manajer yang direkrut untuk menjalankan semua itu.</p>
<p>Dalam bisnis apa pun, calon pemilik harus menyiapkan diri untuk bekerja keras, meluangkan waktu, dan dalam kasus tertentu menyediakan modal. Satu-satunya jalan yang memberi garansi kesuksesan adalah menemukan bisnis yang benar-benar memanfaatkan (utilisasi) semua sumber daya yang tersedia di tangan anda.</p>
<p>Akhirnya, tetap optimistis sepanjang anda memahami perlunya dedikasi tinggi untuk menjalankan bisnis prospektif, termasuk franchise.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (1)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/mitos-seputar-bisnis-waralaba-1" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/mitos-seputar-bisnis-waralaba-1</id>
    <published>2009-01-27T04:49:54-08:00</published>
    <updated>2009-01-27T04:49:54-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (1)<br />
Dalam merencanakan bisnis apa pun, anda tak bisa mengandalkan informasi yang didapat hanya selintasan. Meski 95 persen bisnis franchise sukses, namun terdapat sejumlah mitos yang berpotensi menjerumuskan “franchisee” pada kegagalan.<br />
Hal ini mungkin terjadi, jika entrepreuneur memasuki bisnis franchise hanya dilandasi ekspektasi tinggi namun kurang memahami realitas bisnis sesungguhnya.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Mitos Seputar Bisnis Waralaba (1)</p>
<p>Dalam merencanakan bisnis apa pun, anda tak bisa mengandalkan informasi yang didapat hanya selintasan. Meski 95 persen bisnis franchise sukses, namun terdapat sejumlah mitos yang berpotensi menjerumuskan “franchisee” pada kegagalan.</p>
<p>Hal ini mungkin terjadi, jika entrepreuneur memasuki bisnis franchise hanya dilandasi ekspektasi tinggi namun kurang memahami realitas bisnis sesungguhnya.</p>
<p>Karena itu, sikap realistis dan kehati-hatian penting diperhatikan ketika hendak membuka bisnis baru, baik dengan merek yang sudah “established” maupun yang dirintis dari awal.</p>
<p>Selain menimbang pro dan kontra tentang bisnis franchise tertentu, anda bisa melakukan survei pendahuluan. Jangan gampang menerima pendapat “orang lain” dan pertimbangkan baik-baik apa yang dikatakan kepada anda termasuk yang dijelaskan “franchisor”.</p>
<p>Mitos 1: Franchise adalah garansi kesuksesan dalam dunia bisnis<br />
Realitas: Alasan pokok keberhasilan franchise disebabkan persyaratan mereka yang ketat (rigorous). Misalnya, banyak franchise yang mensyaratkan investasi besar.</p>
<p>Banyak investasi amat substansial nilainya. Karena itu, hanya entrepreuneur yang serius saja yang boleh mengikat kontrak.</p>
<p>Dari sekian banyak yang membeli hak franchise dan terjun ke dalam tersebut, tak semuanya didukung aset yang memungkinkan mereka bisa menunggu imbal balik investasi.</p>
<p>Faktanya, seringkali diperlukan waktu cukup lama bagi sebuah franchise sampai menghasilkan keuntungan. Hal ini disebabkan investasinya besar, royalti, dan biaya lainnya. Karena itu, kekurangan modal (undercapitalization) kerap menjadi penyebab kegagalan franchise.</p>
<p>Mitos 2: Anda bisa menjadi bos<br />
Realitas: Meski anad menikmati kelebihan sebagai pemilik bisnis, namun anda masih dibatasi oleh sistem operasi yang digariskan franchisor. Contohnya, jam operasi bisnis, peralatan dan perlengkapan yang disetujui, serta perangkat pemasaran.</p>
<p>Mitos 3: Membeli franchise tak terlalu mahal ketimbang merintis bisnis sendiri<br />
Realitas: Biaya awal untuk membeli franchise kadang nilainya sama dengan membangun bisnis sendiri dari bawah.</p>
<p>Hal ini wajar jika nilai bangunan, peralatan, dan perlengkapan dibandingkan dengan franchise fee (yang meingizinkan pemakaian nama, logo, merek dagang, dan dalam kasus tertentu material pemasaran). Lalu ditambah dengan keuntungan yang masih harus dikurangi royalti.</p>
<p>Tentu saja alasan ini tak perlu menyurutkan anda. Kenyataannya, kunci mengelola franchise yang menguntungkan adalah menemukan peluang bisnis yang benar-benar tepat untuk anda.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Wanita dan Bisnis Waralaba,</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/wanita-dan-bisnis-waralaba" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/wanita-dan-bisnis-waralaba</id>
    <published>2009-01-27T04:45:01-08:00</published>
    <updated>2009-01-27T04:45:01-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Wanita dan Bisnis Waralaba,<br />
Dunia mencatat peranan wanita yang semakin besar dalam aktivitas bisnis. Saat ini, wanita diperkirakan merupakan sepertiga jumlah entrepreneur di seluruh dunia.<br />
Demikian diungkapkan Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah Info Franchise, dalam seminar “Wanita dan Bisnis Waralaba”, Selasa (19/2) kemarin. Acara ini dihadiri puluhan ibu-ibu dari Keluarga Besar PT. Medco Energi.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Wanita dan Bisnis Waralaba,</p>
<p>Dunia mencatat peranan wanita yang semakin besar dalam aktivitas bisnis. Saat ini, wanita diperkirakan merupakan sepertiga jumlah entrepreneur di seluruh dunia.</p>
<p>Demikian diungkapkan Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah Info Franchise, dalam seminar “Wanita dan Bisnis Waralaba”, Selasa (19/2) kemarin. Acara ini dihadiri puluhan ibu-ibu dari Keluarga Besar PT. Medco Energi.</p>
<p>Di Amerika serikat, menurut laporan Association Educational Foundation, terdapat sekitar 25 % waralaba yang dijalankan Wanita. Kenapa wanita bisa lebih sukses jika mulai melakukan bisnis waralaba ketimbang pria?</p>
<p>Tri Raharjo menyebutkan, setidaknya terdapat lima faktor kelebihan wanita dalam berbisnis. “Wanita cenderung lebih patuh dan mengikuti aturan, hati-hati dalam berbisnis, luwes dalam bernegosiasi, terbiasa mengatur keuangan, ulet dan sabar,” katanya.</p>
<p>Namun, Tri menekankan, ketika berbisnis waralaba, laki-laki ataupun wanita, harus mencurahkan perhatian secara penuh pada bisnis tersebut.  Selain itu, karyawan harus dipandang sebagai aset perusahaan, sedangkan kompetitor perlu dilihat sebagai “suplemen” untuk maju.</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pilih Franchisee yang Punya Jiwa Entrepreneurship</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/pilih-franchisee-yang-punya-jiwa-entrepreneurship" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/pilih-franchisee-yang-punya-jiwa-entrepreneurship</id>
    <published>2009-01-27T03:50:53-08:00</published>
    <updated>2009-01-27T03:50:53-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Rhenald Kasali; Pilih Franchisee yang Punya Jiwa Entrepreneurship<br />
Industri franchise bisa melahirkan banyak entrepreneur di Indonesia. Karena sejatinya, para franchisee yang membeli hak waralaba dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menjalankan bisnisnya. Hanya saja, para franchisee harus tunduk pada kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh franchisor. Tujuannya agar standarisasi merek bisa tetap terjaga.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Rhenald Kasali; Pilih Franchisee yang Punya Jiwa Entrepreneurship</p>
<p>Industri franchise bisa melahirkan banyak entrepreneur di Indonesia. Karena sejatinya, para franchisee yang membeli hak waralaba dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menjalankan bisnisnya. Hanya saja, para franchisee harus tunduk pada kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh franchisor. Tujuannya agar standarisasi merek bisa tetap terjaga.</p>
<p>Namun sangat disayangkan jika franchisor tidak memberikan ruang agar franchisee bisa meng-eksplore kemampuan bisnisnya. Padahal, bisa jadi hal itu dibutuhkan agar bisnis yang dijalankan franchisee lebih berkembang.<br />
Lagipula, pelaku usaha, dalam hal ini franchisee yang memiliki jiwa wirausaha akan lebih menjiwai bisnisnya ketimbang mereka yang tidak. Terutama di industri yang persaingannya semakin hebat. Benarkah industri bisa melahirkan para entrepreneur. Ikuti wawancara wartawan Info Franchise Indonesia, Majid dengan pengamat franchise, Rhenald Kasali. Berikut petikannya:</p>
<p>Bagaimana Anda melihat perkembangan industri franchise di Indonesia?<br />
Menurut saya sangat menggembirakan, progresif dan orang sudah mulai mengejar standar dalam berbisnis.<br />
Menurut Anda, apakah bisnis franchise bisa menumbuhkan entrepeneur-entrepreneur baru di Indonesia?<br />
Ya dan tidak. Ya, kalau memang orang yang memberikan franchise itu (franchisor) memberi ruang kepada kita (baca: franchisee) untuk mengeksplorasi entrepreneurship. Tidak, kalau orang yang memberikan franchisenya hanya bertujuan semata-mata untuk memperluas pasar. Setelah itu tidak ada pertanyaan, yang penting dia sudah terima uangnya dengan standar seperti apa yang sudah ada. Selebihnya ya sudah Anda ikuti saja, dan gak usah ngapa-ngapain.</p>
<p>Bagaimana seharusnya?<br />
Jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita harus ingat bahwa kalau bisnis itu mau bergerak sendiri, maka harus ada pemilihan yang selektif. Orang yang diangkat (franchisee) itu orang yang harus sudah punya jiwa kewirausahaan. Jadi mustahil orang yang tadinya birokrat, kemudian bekerja dan pikirannya masih birokratik bisa jadi entrepreneur. Tidak bisa. Dan tidak mungkin. Franchisee pada dasarnya harus diseleksi dulu. Kalau saya mau menawarkan franchise, saya kasih syarat-syarat. Dan orang itu harus saya seleksi dulu.</p>
<p>Ada anggapan bahwa kalau franchisee terlalu kreatif dan punya jiwa entrepreneur terlalu tinggi bisa membingungkan franchisor dan standarisasi yang sudah terbangun menjadi kacau? Apa pendapat anda?<br />
Bisa iya, kalau perjanjiannya tidak kuat dan persepsinya tidak sama. Tetapi, bisa juga malah menumbuh-kembangkan bisnisnya. Saya kasih contoh, Mc Donald itu mengangkat SDM dari dari orang-orang yang kreatif. Tetapi dia juga minta orang itu punya disiplin, bukan orang yang maunya sendiri. Semuanya harus ada mekanisme, sehingga tidak jadi membingungkan. Harus ada standar. Kalau tidak diatur standarnya orang bisa semaunya sendiri.</p>
<p>Menurut Anda bagaimana bisnis franchise di Indonesia dibandingkan di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia?<br />
Saya kira sama menariknya. Di Indonesia sekarang sedang tumbuh-tumbuhnya. Cuma masalahnya di Indonesia perkembangan mal sangat lambat. Tetapi itu ada banyak persoalan karena pasar tradisional di Indonesia tidak dibangun. Kalau di luar negeri mal dibangun, pasar tradisional tetap dijaga. Tetapi di Indonesia. Sewa tempat di mal mahal. Jadi orang yang mau mengembangkan itu masih terhambat oleh sewa tempat. Atau dia harus menunggu lama untuk mendapatkan tempat yang baik. Tapi kalau dilihat dari gairah masyarakatnya sama saja orang kita juga sudah suka makanan variatif, produk-produk variatif. Segala sesuatu yang mereka lihat di luar negeri, di media cetak atau di televisi mereka ingin menikmati. Jadi, gairahnya sama.</p>
<p>Bagaimana agar bisnis ini bisa lebih tumbuh?<br />
Saya kira partisipasi dari pelaku-pelaku lokal itu sangat penting sekali. Tidak bisa hanya mengandalkan franchisor dari luar negeri. Saya masih menanti-nanti Bakmi Gajah Mada segera difranchise sebelum masyarakat di negara ini tua. Jadi yang lokal-lokal ini harus terus ditumbuhkan Gado-Gado Boplo sudah mulai.</p>
<p>Bagaimana dengan peran dari pemerintah?<br />
Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah. Pemerintah itu tidak ngerti bisnis. Jangan terlalu berharap banyak pada pemerintah. Yang lebih penting komunitas itu menjaga etikanya, tidak perlu pakai undang-undang. Mereka sendiri yang jaga karena mereka ini yang berkepentingan terhadap tumbuhnya usaha. Jamannya sekarang bukan jaman proteksi, bukan intensif. Sekarang jamannya bisnis di depan politik di belakang. Kalau pemerintah politiknya di depan bisnisnya di belakang.</p>
<p>Di Indonesia, kebanyakan yang menyatakan franchise sebenarnya BO (business opportunity). Bisakah ditolelir?<br />
Yang mengatakan itu franchise atau tidak kan harus jelas siapa. Kalau menurut saya serahkanlah kepada pasar. Kalau pasarnya mengatakan oke, maka ia akan diterima dan berkembang. Kalau dia main-main akan mati sendiri. Jadi let the market decide.</p>
<p>Bagaimana agar klaim franchise bisa lebih dipertanggung-jawabkan? Darimana memulainya?<br />
Semua harus dimulai dari standar yang jelas. Standarnya harus lebih tinggi dari yang biasa. Apa saja yang biasa di franchise harus berada di atasnya. Jadi kalau orang lain bilang kami sudah uji laboratorium maka kemudian dia uji klinis. Kalau ada yang mengatakan kami ini pelayanannya sudah bersih, harus bersih di semua titik. Ada lagi yang berkata makanan kami sehat untuk dikonsumsi dalam tempo waktu 2×24 jam, ini tidak boleh lagi. Tetapi harus mengatakan hanya kami sediakan dalam tempo dua jam. Dua jam sudah tidak fresh, akan kami buang. Jadi para franchisor itu harus menuntut dirinya dengan standar yang tinggi. Baik itu dalam produk, service, display, aroma, dalam manajemen dan dalam berbagai hal.</p>
<p>Tepatkah menurut Anda memulai bisnis dengan membeli hak waralaba? Mengapa?<br />
Bisa saja. Tetapi dengan nilai berapa kita harus beli. Kan ada standarnya. Kalau sekarang Mc Donald mau masuk di Irian, orang mau beli dengan harga berapa. Dia harus bayar royalty. Ketika Bread talk baru mulai, saya dengar jauh lebih mahal dibanding Bapak Bambang Rahmadi beli Mc Donald. Tapi ini kan entrepreneurship yang bermain Jhony Andrean. Dia bilang oke, berani beli mahal, tidak apa-apa. Dia menjamin bisa melakukannya. Dia punya keberanian di situ.</p>
<p>Di mana kelebihan-kelebihan bisnis dengan pola waralaba?<br />
Yang pertema, tentu saja produk akan menjadi lebih standar. Kedua, kita akan menjadi lebih cepat membuka cabang. Karena resiko modal bisa diminimalkan. Kita tidak perlu pinjam uang kepada Bank, karena kita berbagi hasil. Ketiga, brand kita bisa lebih berkibar. Orang yang punya franchise tentunya tidak akan menyembunyikan mereknya di bawah langitnya. Tapi diangkat dan diletakan di tempat yang strategis. Tahap berikutnya bagi si franchisee dia akan merasa dirinya berada dalam payung yang lebih besar. Dia punya knowledge yang dibantu karena standar produknya, caranya dan sebagainya.</p>
<p>Benarkah memulai bisnis dengan membeli hak waralaba lebih menjanjikan?<br />
Kembali ke jawaban saya yang semula. Bisa ya, bisa tidak. Kalau Anda beli waralaba yang sudah declining, mau diapain lagi, ya, susah. Tetapi kalau sedang, seperti Mc Donald 10 tahun yang lalu dengan sekarang, ya beda. Sepuluh tahun yang lalu masyarakat kita sedang tumbuh-tumbuhnya, mereka ingin cari kelas. Kalau sekarang sudah biasa kan.</p>
<p>Saran Anda terhadap para pelaku di industri ini?<br />
Untuk franchisornya. Pertama, mereka harus meningkatkan dulu standar yang tinggi, jangan main sembarangan. Kedua, dia harus punya learning center, jangan cuma mengandalkan dirinya saja. Saya tahu ada sejumlah orang yang one man show, dia sendiri yang pergi ke mana-mana. Akhirnya energinya habis. Dia sakit, ya perusahaan juga sakit. Dia mati, ya, perusahaan juga mati. Jadi harus ada learning center yang terdiri dari berbagai pihak yang mengerti product development. Yang ketiga, pilihlah calon franchisee yang dapat diandalkan, jangan dilepas sembarangan. Keempat, berikan harga yang wajar dalam mengangkat franchisee, jangan ingin cepat tumbuh, tetapi kemampuan logistik dan knowledge-nya tidak memadai.</p>
<p>Sumber: Majalah Info Franchise</p>
    ]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tips Memilih Franchisee</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.iklantoko.com/content/tips-memilih-franchisee" />
    <id>http://www.iklantoko.com/content/tips-memilih-franchisee</id>
    <published>2009-01-27T03:31:46-08:00</published>
    <updated>2009-01-27T03:31:46-08:00</updated>
    <author>
      <name>root</name>
    </author>
    <summary type="html"><![CDATA[<p>Tips Memilih Franchisee<br />
Jangan Tergiur oleh Uang dalam Memilih Franchisee<br />
Franchisee merupakan salah satu pemeran penting suksesnya usaha franchisor. Salah pilih bisa berbahaya.</p>
    ]]></summary>
    <content type="html"><![CDATA[<p>Tips Memilih Franchisee</p>
<p>Jangan Tergiur oleh Uang dalam Memilih Franchisee</p>
<p>Franchisee merupakan salah satu pemeran penting suksesnya usaha franchisor. Salah pilih bisa berbahaya.</p>
<p>Proses pemilihan franchisee menjadi titik penentu berhasil-tidaknya outlet yang ingin dikembangkan franchisor. Sebab, franchisee merupakan partner—untuk jangkan beberapa tahun—yang akan menjalankan usaha franchisor. Karena itu, franchisee haruslah orang yang tepat dan dapat dipercaya. Mereka harus memiliki kemampuan sesuai keinginan franchisor, memiliki visi dan misi yang sama dengan franchisor dan dapat bekerja sama dengan franchisor untuk menghasilkan keuntungan bersama.</p>
<p>Salah memilih franchisee bisa berbahaya. Franchisee yang tidak tepat bisa menjadi faktor penghambat dalam mengembangkan usaha. Serta, bisa merusak citra merek franchisor. “Franchisee merupakan salah satu pemeran penting suksesnya usaha franchisor. Franchisee merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam menentukan keberhasilan outlet miliknya. Jika outlet tersebut gagal, otomatis akan merusak citra merek franchisor. Selain itu, jika franchisee yang dipilih tidak tepat, ia akan menjadi hambatan bagi franchisor untuk bekerja sama dalam mengembangkan franchise tersebut,” ungkap pengamat franchise, Suzanna Hartono dari SSA Franchise Consulting.</p>
<p>Oleh sebab itu, saran Suzanna, franchisor tidak boleh tergiur oleh uang dalam menentukan franchisee. Menurut Suzanna, franchisor harus mengenali lebih dahulu tipe franchisee yang diinginkannya. Interview, kata Suzanna, merupakan cara yang paling efektif untuk mengenali calon franchisee. Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan meminta calon franchisee untuk mengisi formulir dan menjawab beberapa pertanyaan seputar latar belakangnya.</p>
<p>Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih franchisee, menurut Suzanna, antara lain; latar belakang ekonomi, pekerjaan, pengalaman dan motivasi franchisee dalam membeli franchise, serta sifat-sifat dari calon franchisee. Dijelaskan, franchisee yang baik adalah mereka yang mau turun langsung mengawasi jalannya usaha. “Franchisee harus merasa ikut memiliki usaha tersebut sehingga ia mau berjuang keras untuk memajukan usaha tersebut sebatas yang ditoleransi oleh franchisor, katanya.</p>
<p>Suzanna mengakui, masing-masing franchisor bisa saja memiliki kriteria yang berbeda terhadap franchisor yang cocok untuk usahanya. Yang jelas, menurutnya, franchisor harus memiliki standar tersendiri mengenai kriteria franchisee yang akan dicarinya. Standar kriteria tersebut bisa juga ditentukan dari pengalaman franchisor. Namun, kata Suzanna, yang terpenting, franchisee tersebut harus mengerti benar konsep franchise, bahwa mereka tidak bisa seenaknya sendiri, harus tetap menurut pada aturan yang ditetapkan franchisor. “Secara umum, kriteria franchisee yang cocok untuk hampir segala bentuk usaha adalah pekerja keras, mampu bekerja sama dengan orang lain, mengetahui sedikit tentang keuangan dan bisnis, serta mau mendengarkan nasihat dari orang lain,” katanya.</p>
<p>Ditegaskan, franchisee yang tidak tepat bisa menimbulkan banyak masalah. Franchisee yang tidak tepat dapat dilihat dalam dua tipe: terlalu pasif dan terlalu aktif. Franchisee yang terlalu pasif, menurut Suzanna, memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap franchisor. Untuk setiap masalah yang timbul, mereka akan meminta bantuan franchisor untuk menyelesaikannya. Mereka biasanya tidak memiliki inisiatif sama sekali dan menerima apa saja yang dinasehati oleh franchisor. “Franchisee tipe ini sangat merepotkan franchisor, katanya.</p>
<p>Sementara itu, franchisee yang terlalu aktif, menurutnya, sangat kreatif dan memiliki segudang cara untuk mengembangkan usahanya. Franchisee tipe ini biasanya akan protes dan terus menuntut jika aksi yang dilakukan franchisor tidak seproaktif aksi-aksi yang sudah direncanakannya. “Biasanya, franchisee tipe ini yang cukup susah diatur dan sering tidak mau menuruti perjanjian karena menganggap dirinya lebih pintar,” jelasnya.</p>
<p>Selain itu, franchisor juga harus hati-hati terhadap franchisee yang nakal. Ciri dari franchisee nakal ini, menurut Suzanna, antara lain: tidak menuruti aturan-aturan yang dibuat franchisor. Kenakalan franchisee yang paling umum adalah tidak mematuhi kewajibannya di bidang keuangan, menjual produk (barang atau jasa) lain di luar sepengetahuan franchisor, mencuri sistem bisnis franchisor dan menerapkannya dalam usaha sejenis, serta memprovokasi franchisee lain untuk tidak mematuhi aturan franchisor.</p>
<p>Agar bisnis franchise berjalan dengan lancar sesuai yang diinginkan, para franchiseenya harus berada dalam kesatuan visi dan misi bersama. Jika tidak, usaha yang dibangun bisa berantakan di tengah jalan. Bagi franchisor, franchisee harus dipilih secara selektif. Jangan karena uang, mengorbankan bisnis yang ingin dibangun secara jangka panjang.</p>
<p>Bentuk-bentuk kenakalan franchisee:<br />
Tidak menuruti aturan-aturan yang sudah dibuat franchisor. Kenakalan franchisee yang paling umum adalah tidak mematuhi kewajibannya di bidang keuangan;<br />
Menjual produk (barang atau jasa) lain di luar pengetahuan franchisor;<br />
Mencuri sistem bisnis franchisor dan menerapkannya dalam usaha sejenis;<br />
Memprovokasi franchisee lain untuk tidak menuruti aturan franchisor.<br />
Pertimbangan ketika memilih calon franchisee:<br />
Latar belakang ekonomi;<br />
Pekerjaan;<br />
Pengalaman;<br />
Motivasi membeli franchise;<br />
Yang mau turun langsung mengawasi jalannya usaha;<br />
Kriteria umum franchisee untuk semua usaha:<br />
Pekerja keras;<br />
Mampu bekerja sama dengan orang lain;<br />
Mengetahui sedikit tentang keuangan dan bisnis;<br />
Mau mendengarkan nasehat dari orang lain;<br />
Mengerti konsep dari franchise;<br />
Taat aturan yang dibuat franchisor.<br />
Franchisee yang harus dipilih:<br />
Bisa dipercaya;<br />
Memiliki kemampuan menjalankan usaha;<br />
Memiliki visi dan misi yang sama dengan franchisor;<br />
Dapat bekerja sama dengan franchisor untuk menghasilkan keuntungan bersama.</p>
    ]]></content>
  </entry>
</feed>
